Ini adalah kumpulan puisi tau koleksi puisi-puisi
karya taufik ismail, bagi para penikmat puisi silahkan ber nostalgia dengan puisi-puisi beliau yang sangat exsotis.
1. Malu (Aku)
Jadi Orang Indonesia
2. Bersyukurlah San, Bersyukurlah
3. Tiga Tangga Sama, Kau Daki Berulang Kali
4. Ketel Lokomotip
5. Syair Empat Kartu di Tangan
6. Gurindam Satu
7. Gurindam Satu Setengah
8. Gurindam Dua (Kesatu)
9. Gurindam Dua (Kedua)
10. Gurindam Tiga
11. Doa
12. Ketika Bumi Mengandung Api, Bukit Kapur Dikelilingi Kubur
13. Kembalikan Indonesia PadaKu
14. Gebt mir Indonesien zurück!
15. Beri Daku Sumba
2. Bersyukurlah San, Bersyukurlah
3. Tiga Tangga Sama, Kau Daki Berulang Kali
4. Ketel Lokomotip
5. Syair Empat Kartu di Tangan
6. Gurindam Satu
7. Gurindam Satu Setengah
8. Gurindam Dua (Kesatu)
9. Gurindam Dua (Kedua)
10. Gurindam Tiga
11. Doa
12. Ketika Bumi Mengandung Api, Bukit Kapur Dikelilingi Kubur
13. Kembalikan Indonesia PadaKu
14. Gebt mir Indonesien zurück!
15. Beri Daku Sumba
Syair Orang Lapar
Lapar menyerang desaku
Kentang dipanggang kemarau
Surat orang kampungku
Kuguratkan kertas
Risau
Lapar lautan pidato
Ranah dipanggang kemarau
Ketika berduyun mengemis
Kesinikan hatimu
Kuiris
Lapar di Gunungkidul
Mayat dipanggang kemarau
Berjajar masuk kubur
Kauulang jua
Kalau
1964
Sumber : Tirani dan Benteng
Sebuah Jaket Berlumur Darah
Sebuah jaket berlumur darah
Kami semua telah menatapmu
Telah pergi duka yang agung
Dalam kepedihan bertahun-tahun
Sebuah sungai membatasi kita
Di bawah terik matahari Jakarta
Antara kebebasan dan penindasan
Berlapis senjata dan sangkur baja
Akan mundurkah kita sekarang
Seraya mengucapkan ’Selamat tinggal perjuangan’
Berikara setia kepada tirani
Dan mengenakan baju kebesaran sang pelayan?
Spanduk kumal itu, ya spanduk itu
Kami semua telah menatapmu
Dan di atas bangunan-bangunan
Menunduk bendera setengah tiang
Pesan itu telah sampai kemana-mana
Melalui kendaraan yang melintas
Abang-abang beca, kuli-kuli pelabuhan
Teriakan-teriakan di atas bis kota, pawai-pawai perkasa
Prosesi jenazah ke pemakaman
Mereka berkata
Semuanya berkata
1966
Sumber: Tirani dan Benteng


